Pada 20 Juni 2025, serangan udara Amerika Serikat ke situs nuklir Iran langsung memicu lonjakan harga minyak dunia. Minyak mentah AS dan Brent masing-masing naik 3,1%, mencerminkan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan global, terutama jika Iran menutup Selat Hormuz—jalur penting bagi 20% konsumsi minyak dunia.
Para analis memperkirakan harga minyak bisa mencapai $100 per barel atau lebih, tergantung respons Iran dan eskalasi konflik regional.
Latar Belakang Serangan: Ketegangan Meningkat
Amerika Serikat, di bawah Presiden Donald Trump, meluncurkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan. Serangan ini menggunakan bom bunker-buster seberat 30.000 pon.
Trump menyebutnya sebagai “kesuksesan militer spektakuler,” meski dampak kerusakan masih menjadi perdebatan. Citra satelit menunjukkan kehancuran parah di Fordow, namun tidak ada peningkatan radiasi yang terdeteksi.
Konflik Iran-AS dan Eskalasi Regional
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik Iran-Israel dan ketegangan berkepanjangan antara Iran dan AS. Sekjen PBB António Guterres menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya”, memperingatkan dampak luas terhadap stabilitas kawasan.
Harga Minyak Langsung Naik: Apa Penyebabnya?
Data Harga Terkini
- Minyak mentah AS: Naik $2,30 (+3,1%) ke $76,14/barel
- Brent: Naik $2,38 (+3,1%) ke $79,39/barel
Kekhawatiran utama adalah potensi penutupan Selat Hormuz, jalur ekspor utama yang mengangkut 20 juta barel minyak per hari—setara 20% konsumsi global. Jika ditutup, pasokan global terganggu parah.
Kondisi Produksi Iran
- Produksi: 3,3 juta barel per hari (bpd)
- Ekspor: 1,84 juta bpd, sebagian besar ke China
Jika Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak ke $130 per barel, menurut proyeksi JP Morgan.
Risiko Inflasi dan Dampak Ekonomi Global
Lonjakan harga minyak berisiko mendorong inflasi global kembali tinggi. Model ekonomi menunjukkan bahwa harga di atas $130 per barel dapat memicu inflasi hingga 6%, memukul pemulihan ekonomi pasca-pandemi yang rapuh.
AS Minta China Turun Tangan
Karena China sangat bergantung pada minyak dari Teluk Persia, AS mendesak Beijing untuk mencegah Iran menutup Selat Hormuz.
Respon Dunia dan Risiko Eskalasi Militer
Iran bersumpah akan membalas serangan. Parlemen Iran bahkan menyetujui langkah penutupan Selat Hormuz—meski keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran.
Keterlibatan negara-negara regional seperti Israel dan Arab Saudi menambah potensi perluasan konflik.
Tinjauan Dampak Utama Serangan AS ke Iran
Aspek | Detail |
---|---|
Harga Minyak Naik | Minyak AS: +3,1% ($76,14); Brent: +3,1% ($79,39) |
Produksi & Ekspor Iran | Produksi: 3,3 juta bpd; Ekspor: 1,84 juta bpd (terutama ke China) |
Risiko Gangguan | Selat Hormuz angkut 20 juta bpd (20% konsumsi global) |
Proyeksi Harga | Bisa naik ke $100–$130/barel jika konflik memanas |
Inflasi Global | Potensi inflasi >6% jika harga minyak menembus $130 |
Kesimpulan: Pasar Minyak di Persimpangan Krisis
Serangan AS ke Iran bukan hanya serangan militer—ini adalah titik balik bagi geopolitik dan pasar energi global. Ketidakpastian mengenai respons Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz membuat harga minyak sangat volatil.
Investor, pelaku pasar energi, dan pemerintah global kini memantau situasi dengan cermat, karena setiap eskalasi lanjutan bisa berdampak langsung pada ekonomi dunia.
Disclaimer:
Artikel ini bertujuan memberikan analisis berbasis data publik dan bukan merupakan saran investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.