Harga Minyak Bisa Tembus USD 75? Jika Selat Hormuz Ditutup Iran

Daftar isi Artikel

Selat Hormuz adalah jalur vital bagi 20% perdagangan minyak global. Penutupan oleh Iran akibat konflik di Timur Tengah bisa memicu gangguan pasokan besar dan membuat harga minyak global melonjak. Saat ini, harga Brent berada di USD 72,06 per barel (EIA, Juli 2025), sementara ICP Indonesia untuk Juni 2025 adalah USD 69,33 per barel.

Jika terjadi penutupan Hormuz, harga minyak dunia diprediksi melampaui USD 75, bahkan bisa menyentuh USD 100 atau lebih, tergantung pada lamanya gangguan dan respons negara produsen. 7 per barel, pemerintah Indonesia harus menambah subsidi energi hingga USD 11,5 miliar.

Skenario Lonjakan Harga Minyak: Bagaimana Dampaknya?

Sejumlah lembaga internasional, termasuk Reuters dan The Washington Post, menyampaikan skenario berbeda terkait dampak penutupan Selat Hormuz.

Jika jalur ini terganggu:

  • Pasokan minyak global bisa turun 20%.
  • Harga minyak dapat melonjak lebih dari 50%.
  • Berdasarkan simulasi historis (krisis minyak 1973 dan 1979), harga Brent bisa melebihi USD 100 per barel.

Meskipun demikian, sebagian analis menilai bahwa gangguan di Hormuz biasanya bersifat sementara. Meski begitu, ketegangan yang terus meningkat membuat pasar tetap waspada.

Dampak Langsung ke Indonesia: ICP, Subsidi, dan Harga BBM

Kenaikan ICP

ICP Indonesia akan bergerak sejalan dengan kenaikan harga Brent. Jika Brent menembus USD 100, maka ICP berpotensi berada di kisaran USD 90-95 per barel.

Sebagai pembanding, pada tahun 2022, ICP sempat mencapai USD 95,7 per barel, dan saat itu pemerintah harus menambah subsidi energi hingga USD 11,5 miliar.

Beban Subsidi Meningkat

Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada beban subsidi pemerintah:

  • Setiap kenaikan USD 1 per barel di ICP menambah:
    • USD 102 juta untuk subsidi LPG.
    • USD 3 juta untuk subsidi kerosen.
    • USD 185 juta untuk kompensasi BBM.

Harga BBM dan Inflasi

Jika subsidi tak ditambah, harga BBM dalam negeri berpotensi naik. Hal ini akan memicu:

  • Meningkatkan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
  • Kenaikan biaya transportasi.
  • Kenaikan harga barang dan jasa.

Tabel Perbandingan Dampak Skema Harga Minyak

SkenarioHarga Brent (USD/barel)ICP Proyeksi (USD/barel)Dampak SubsidiDampak Harga BBM
Saat Ini (Juli 2025)72,0669,33Sesuai anggaran 2025Stabil
Hormuz Ditutup (Singkat)85-9080-85Tambah USD 5-7 miliar subsidiKenaikan ringan
Hormuz Ditutup (Lama)>10090-95Tambah >USD 11,5 miliar subsidiKenaikan signifikan, inflasi

Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah Indonesia?

Pemerintah harus sigap menghadapi risiko ini. Beberapa langkah antisipasi yang dapat dilakukan:

  • Revisi anggaran subsidi energi jika harga minyak global terus naik.
  • Diversifikasi pasokan energi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
  • Mengendalikan harga BBM melalui kebijakan fiskal agar inflasi tetap terjaga.

Selain itu, penting untuk terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih sangat dinamis.

Kesimpulan

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memang belum pasti terjadi. Namun, jika skenario terburuk ini terwujud, harga minyak dunia hampir pasti akan melonjak tajam — bahkan lebih dari USD 100 per barel.

Bagi Indonesia, dampaknya akan terasa melalui:

  • Kenaikan ICP dan subsidi energi.
  • Potensi kenaikan harga BBM.
  • Risiko inflasi dan tekanan daya beli masyarakat.

Langkah antisipatif pemerintah dan kesiapan pasar menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global ini.

Bagikan artikel ini:

Komentar:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *