1. Harga Minyak Tak Jatuh Meski Produksi Naik
OPEC+ secara resmi mengumumkan akan menaikkan produksi minyak sebesar 547.000 barel per hari mulai September 2025. Langkah ini mengakhiri periode panjang pemangkasan output yang mereka lakukan sejak 2022. Banyak analis memperkirakan harga minyak akan langsung melemah. Namun, kenyataan di pasar berkata lain.
Harga minyak global justru tetap bertahan di kisaran USD 69–70 per barel. Bahkan saat Brent sempat menyentuh titik terendah dalam sepekan, pasar segera membalikkan arah. Apa yang terjadi?
2. Ketegangan Geopolitik Jadi Penopang Utama
Alasan utamanya: ketegangan geopolitik meningkat tajam di berbagai kawasan strategis. Pertama, ketegangan antara Israel dan Iran kembali memanas setelah laporan serangan udara di dekat fasilitas energi. Kedua, Rusia terus memperluas pengaruhnya di Ukraina dan Timur Tengah, meski menghadapi sanksi baru dari AS dan Uni Eropa.
Akibatnya, pelaku pasar memandang risiko gangguan pasokan masih tinggi. Mereka pun cenderung mempertahankan posisi beli (long) alih-alih menjual di tengah peningkatan produksi.
3. Trump Ancam India, Pasar Semakin Gelisah
Di sisi lain, Donald Trump – kandidat kuat Presiden AS 2025 – kembali menyulut ketegangan dengan India. Ia mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% atas barang-barang impor dari India karena negara tersebut masih membeli sebagian besar minyaknya dari Rusia.
Langkah ini menciptakan ketidakpastian baru dalam pasar energi dunia. Jika ketegangan dagang meningkat, aliran minyak global bisa terganggu dan rantai pasok menjadi lebih kompleks.
4. Kelebihan Pasokan Mengintai, Tapi Belum Dominan
Meskipun produksi meningkat, kelebihan pasokan atau oversupply minyak belum sepenuhnya menekan harga. Permintaan dari India dan China tetap kuat. Selain itu, aktivitas industri global mulai menunjukkan pemulihan moderat setelah penurunan kuartal pertama 2025.
Pasar masih melihat ketegangan geopolitik sebagai faktor dominan dibandingkan aspek fundamental pasokan.
5. Kesimpulan: Risiko Politik Lebih Kuat dari Data Produksi
Pasar minyak saat ini menghadapi dilema klasik: produksi naik, tapi ketegangan global mendorong harga tetap tinggi. Selama konflik geopolitik belum mereda, harga minyak global kemungkinan besar akan tetap stabil atau bahkan menguat. Bagi para trader dan investor energi, penting untuk memantau berita politik secara intensif – bukan hanya angka produksi semata.
Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Keputusan trading atau investasi adalah tanggung jawab masing-masing individu. Selalu lakukan riset tambahan atau konsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan.