1. Kebijakan Tarif Donald Trump: Menekan atau Mengerek Harga Minyak?
Sejak kembali ke Gedung Putih, Donald Trump langsung mengguncang pasar dengan kebijakan Trump Tariff 2.0. Ia menetapkan tarif hingga 145% untuk produk dari Tiongkok dan 10-32% bagi negara lain, termasuk Indonesia. Kebijakan ini segera memicu kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, yang pada akhirnya bisa menurunkan permintaan minyak dunia.
Bank Citi bahkan memperkirakan bahwa langkah Trump dapat memangkas pertumbuhan permintaan minyak global di 2025. Trump juga memberi insentif pajak besar bagi industri minyak AS, mendorong peningkatan produksi domestik. Dalam pidatonya, Trump berujar, “Kami memiliki lebih banyak emas cair (minyak) daripada negara mana pun di dunia.” Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa AS akan menggencarkan pengeboran di lahan federal, yang pada 2023 saja sudah menyumbang 26% dari total produksi minyak nasional.
Namun, kebijakan tersebut membawa konsekuensi lain. Sanksi Trump terhadap Iran sejak 2018 telah memangkas ekspor minyak Iran menjadi hanya 3,39 juta barel per hari (bph) pada akhir 2024. Jika Trump kembali bersikap keras terhadap Iran, pasar global bisa kehilangan pasokan signifikan. Kekurangan itu berpotensi mengerek harga minyak, mengimbangi lonjakan pasokan dari AS.
2. Gencatan Senjata Israel-Iran: Meredakan Harga Minyak
Pada Juni 2025, harga minyak dunia tiba-tiba anjlok setelah Trump berhasil memediasi gencatan senjata antara Israel dan Iran. Harga West Texas Intermediate (WTI) terjun 5,5% ke sekitar $65 per barel, sementara Brent turun 5,3% ke $68 per barel.
Gencatan senjata ini menenangkan pasar yang sebelumnya khawatir konflik di Timur Tengah bakal mengganggu jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz, yang menyalurkan sepertiga pasokan minyak dunia. Meski demikian, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Serangan rudal Iran ke pangkalan AS di Qatar pada Juli 2025 membuktikan bahwa potensi eskalasi tetap ada.
Melalui platform Truth Social, Trump menyampaikan kabar baik tersebut, namun investor tetap waspada terhadap kemungkinan konflik susulan yang dapat kembali mengguncang pasar minyak.
3. Ultimatum Trump kepada Rusia: Fluktuasi Harga Tak Terhindarkan
Tak berhenti di Timur Tengah, Trump juga menekan Rusia. Pada Juli 2025, ia melontarkan ultimatum: Rusia harus menyepakati gencatan senjata di Ukraina dalam 50 hari, atau ekspor minyaknya bakal dikenai tarif 100%.
Pernyataan itu langsung mengguncang pasar. Harga minyak sempat anjlok karena pasar memperkirakan Rusia mungkin saja tunduk di bawah tekanan AS, sehingga pasokan minyak global tetap aman. Namun, tak lama kemudian, Trump dikabarkan melunak. Harga minyak pun kembali menguat pada 16 Juli 2025, setelah muncul sinyal bahwa negosiasi dengan Rusia berjalan lebih fleksibel.Referensi
Episode ini menegaskan bahwa sentimen harga minyak sangat rentan terhadap setiap manuver Trump di panggung geopolitik.
4. Indonesia di Tengah Perang Dagang: Peluang atau Ancaman?
Indonesia menghadapi dilema di tengah perang dagang AS-Tiongkok. Tarif 32% terhadap produk Indonesia yang masuk ke AS jelas mengancam kinerja ekspor, termasuk sektor minyak dan gas (migas).
Namun, di balik tantangan ini, ada peluang besar. Indonesia berupaya meningkatkan impor minyak mentah, LPG, dan bensin dari AS sebagai bagian dari strategi diplomasi dagang. Selain itu, pemerintah Indonesia juga memperbesar impor produk agrikultur AS seperti gandum dan kedelai untuk mengimbangi tekanan tarif.
Di sisi investasi, Indonesia menjadi alternatif destinasi relokasi industri dari Tiongkok. Sejak 2019, negara ini telah mengantongi investasi sebesar $14,7 miliar dari 58 perusahaan, utamanya di sektor semikonduktor dan panel surya. Langkah ini menempatkan Indonesia dalam posisi strategis, serupa dengan Vietnam yang sukses mengambil alih sebagian pasar AS selama perang dagang 2018-2019.
Sayangnya, Indonesia masih rentan. Ketergantungan pada bahan baku dari Tiongkok, terutama untuk industri elektronik yang 70% komponennya diimpor, menjadi titik lemah. Untuk itu, Indonesia perlu segera mendiversifikasi pasar ekspor ke ASEAN, Timur Tengah, dan Eropa. Selain itu, pembenahan infrastruktur logistik dan reformasi iklim investasi menjadi kunci agar Indonesia tak kalah bersaing dengan Vietnam.
5. Proyeksi Harga Minyak Dunia 2025
Harga minyak dunia pada 2025 diprediksi tetap berfluktuasi. Bank Citi memproyeksikan harga bisa turun ke $60 per barel akibat kebijakan pro-pengeboran Trump dan permintaan global yang melemah. Namun, jika terjadi gangguan pasokan dari Iran atau eskalasi konflik lain, harga minyak bisa melonjak kembali. Referensi
Sentimen di media sosial juga memperlihatkan kecemasan pasar. Di platform X, akun @thesmallmoney menuding Trump punya motif tersembunyi terkait saham minyak. Sementara @detikfinance mencatat bahwa kebijakan tarif Trump turut memicu kenaikan harga minyak di pasar global. Referensi
Kesimpulan
Harga minyak dunia saat ini berada di persimpangan antara kebijakan Trump yang proteksionis, ketegangan geopolitik global, dan dinamika pasar energi. Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi ujian sekaligus peluang. Jika Indonesia mampu memperkuat strategi diplomasi ekonomi, mempercepat diversifikasi pasar, dan memperbaiki daya saing investasi, maka krisis global ini bisa menjadi momentum emas untuk memperkokoh posisinya di pasar global.
Disclaimer : Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan analisis semata. Segala kebijakan dan keputusan investasi yang diambil pembaca menjadi tanggung jawab pribadi. Kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keputusan finansial yang timbul akibat penggunaan informasi dalam artikel ini.