1. Harga Minyak Turun Tipis Meski Ketegangan Geopolitik Meningkat
Pada Kamis, 31 Juli 2025, harga minyak global mencatat pelemahan ringan setelah sebelumnya menguat selama empat sesi berturut-turut. Investor masih menimbang dua sentimen besar: ancaman tarif tambahan dari Presiden AS Donald Trump dan kenaikan mengejutkan dalam persediaan minyak mentah AS.
- WTI crude September turun 0,2% ke US$ 69,83 per barel
- Brent crude September turun 0,3% ke US$ 73,06 per barel
- Brent October turun 0,4% ke US$ 72,21 per barel
2. Ancaman Tarif Trump: Risiko Baru untuk Pasar Energi Global
Presiden Trump mempercepat ultimatum terhadap Rusia agar mengakhiri perang di Ukraina. Ia mengancam akan memberlakukan tarif sekunder 100% terhadap negara-negara yang masih membeli minyak Rusia, termasuk Tiongkok dan India.
Langkah ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap:
- Potensi penurunan tajam pasokan minyak global
- Gangguan distribusi energi dari Rusia, salah satu eksportir utama dunia
- Ketegangan dagang baru antara AS dan mitra-mitra dagangnya
Menurut analis Fujitomi Securities, pernyataan Trump mendorong harga minyak dalam jangka pendek, tetapi efeknya masih dibatasi oleh kekuatan dolar dan melemahnya indikator ekonomi global.
3. Data EIA: Lonjakan Stok Minyak Mentah AS Mengejutkan Pasar
Di sisi lain, laporan dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa:
- Stok minyak mentah AS naik 7,7 juta barel ke 426,7 juta
- Kenaikan ini jauh melebihi ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 1,3 juta barel
- Penyebab utama adalah penurunan ekspor minyak AS
Namun, sisi permintaan tetap kuat. Stok bensin AS justru turun 2,7 juta barel, menunjukkan musim mengemudi (driving season) di AS masih menyerap konsumsi bahan bakar cukup tinggi.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Harga Minyak Minggu Ini
Faktor Utama | Dampak terhadap Harga Minyak |
---|
Ancaman tarif AS terhadap Rusia | Mendorong premi risiko & ekspektasi pasokan ketat |
Lonjakan stok minyak mentah AS | Menekan harga karena tanda kelebihan pasokan |
Penurunan stok bensin | Menunjukkan permintaan musiman yang kuat |
Penguatan dolar & ekonomi lesu | Menahan lonjakan harga |
5. Sentimen Pasar: Antara Harapan dan Kekhawatiran
Menurut analis dari Phillip Nova, saat ini harga minyak berada dalam pola konsolidasi. Para pelaku pasar belum yakin untuk mendorong harga lebih tinggi atau lebih rendah, karena dua kekuatan besar saling menekan:
- Bullish: Ketegangan geopolitik dan sanksi memperketat ekspektasi pasokan
- Bearish: Dolar AS menguat, pertumbuhan global melambat, dan stok minyak bertambah
Pasar juga masih menunggu hasil dari perundingan dagang lanjutan, serta perkembangan situasi antara AS–Rusia–Tiongkok dalam beberapa minggu ke depan.
6. Prospek Jangka Pendek: Tetap Waspada Terhadap Volatilitas
Dengan ketegangan geopolitik yang meningkat dan data fundamental yang bercampur, volatilitas harga minyak diprediksi akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Apakah tarif sekunder benar-benar akan diterapkan?
- Bagaimana respons Tiongkok terhadap tekanan AS?
- Apakah permintaan musiman akan terus mengimbangi tekanan pasokan?
Jika konflik dan tarif bereskalasi, harga Brent bisa menembus kembali area resistance US$75–77. Namun jika permintaan melemah dan ekspor meningkat, harga bisa koreksi kembali ke US$68–70.
Disclaimer : Artikel ini disusun berdasarkan data pasar hingga 31 Juli 2025 dari berbagai sumber terpercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.