Konflik Internasional Memanas, Harga Minyak Kembali Merangkak Naik

Daftar isi Artikel

Konflik Global Dorong Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ketegangan geopolitik dan harga minyak kembali menjadi sorotan utama pasar komoditas global pada Juni 2025. Dua faktor dominan memicu lonjakan harga: konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina, serta ketegangan nuklir yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran.

Harga minyak Brent tercatat naik ke $67,18 per barel, sementara WTI menyentuh $64,98 pada 11 Juni 2025. Kenaikan ini merupakan imbas langsung dari kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari dua negara produsen utama dunia: Rusia dan Iran.

Ketika dua negara ini menghadapi tekanan internasional dan domestik secara bersamaan, ekspektasi investor terhadap keberlanjutan pasokan terguncang. Banyak pelaku pasar kini memperkirakan bahwa ketidakstabilan ini akan menjadi tema utama kuartal ketiga 2025.

Latar Belakang Ketegangan Geopolitik

Rusia-Ukraina

Konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung sejak 2022, belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pernyataan terbaru dari Kremlin menegaskan bahwa penyelesaian konflik ini masih jauh dari harapan. Rusia, yang merupakan produsen minyak terbesar kedua di dunia pada 2024, memiliki pengaruh besar dalam menentukan stabilitas pasokan global.

Invasi Rusia ke Ukraina tidak hanya memengaruhi pasar energi Eropa, tetapi juga menciptakan efek domino global yang menekan cadangan minyak dunia. Negara-negara pengimpor besar seperti Jerman dan India kini mencari diversifikasi sumber energi, mendorong ketegangan di pasar.

AS-Iran

Sementara itu, di Timur Tengah, Iran menolak proposal nuklir baru dari Amerika Serikat pada awal Juni 2025. Penolakan ini berpotensi memperpanjang sanksi terhadap sektor energi Iran. Sebagai anggota OPEC dan produsen minyak ketiga terbesar di organisasi tersebut, absennya minyak Iran dari pasar global memperketat pasokan dan mendorong harga naik.

Beberapa analis memperingatkan bahwa jika Iran terus menolak keterlibatan diplomatik, maka potensi blokade Selat Hormuz jalur transit utama minyak dunia bisa menjadi kenyataan. Hal ini akan mengganggu hingga 20% perdagangan minyak global.

Data Harga dan Proyeksi Pasar

Berdasarkan data TradingEconomics:

  • Brent: $67,18 per barel (naik 3,42% dalam sebulan)
  • WTI: $64,98 per barel (naik 4,89% dalam sebulan)

Namun, keduanya masih 17-18% lebih rendah dibandingkan tahun lalu, mencerminkan volatilitas tinggi di pasar.

Proyeksi 2025:

  • EIA memprediksi harga Brent rata-rata $74 per barel.
  • Deloitte: Kisaran $70 – $80, dengan potensi kenaikan $10 jika ketegangan meningkat.
  • Goldman Sachs: Jika gangguan pasokan Iran berlanjut, harga bisa mendekati $90 secara temporer.

Faktor lain seperti permintaan global pasca-COVID, pertumbuhan ekonomi China, dan transisi energi hijau juga berkontribusi pada dinamika harga. Para investor kini mencermati sinyal-sinyal dari Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa terkait suku bunga yang berpotensi memengaruhi permintaan energi.

Implikasi Ekonomi dan Strategi OPEC+

OPEC+ mengumumkan penambahan produksi sebesar 411 ribu barel per hari untuk bulan Juni. Namun, potensi kenaikan sanksi terhadap Iran, Rusia, dan Venezuela dapat menetralkan tambahan produksi tersebut.

Sementara itu, laporan dari Dallas Fed menekankan bahwa meskipun dampak langsung geopolitik terhadap ekonomi makro global masih terbatas, skenario ekstrim seperti penurunan produksi 20% di kawasan Teluk Persia dapat memicu lonjakan harga minyak hingga 50%.

Kebijakan OPEC+ tetap menjadi jangkar penting dalam mengendalikan fluktuasi harga. Negara-negara seperti Arab Saudi kini berada di persimpangan antara mempertahankan pangsa pasar dan menjaga stabilitas harga.

Respons Pasar dan Investor

Analis dari Forbes dan Fitch Ratings mencatat bahwa:

  • Eskalasi konflik atau pelemahan dolar AS dapat memicu rally harga minyak.
  • Sebaliknya, kesepakatan damai atau keberhasilan diplomasi dapat menurunkan harga.

Investor global kini memperhatikan berita diplomatik dengan seksama. Ketegangan atau perdamaian yang terjadi bahkan dalam waktu singkat mampu menyebabkan volatilitas besar dalam harga harian minyak. Alokasi aset dalam portofolio pun mulai bergeser, dengan lebih banyak investor beralih ke aset safe haven seperti emas.

Ringkasan Tabel Ketegangan Geopolitik

Ketegangan GeopolitikDetail UtamaDampak pada Harga Minyak
Konflik Rusia-UkrainaTidak ada solusi damai, Rusia = produsen besarRisiko pasokan terganggu, premium harga naik
Ketegangan AS-IranIran menolak proposal nuklir ASSanksi ketat, pasokan global terbatas

Kesimpulan: Arah Harga Minyak Masih Tergantung Geopolitik

Ketegangan geopolitik dan harga minyak terbukti saling terkait erat. Dengan dua peristiwa utama yang belum menemukan solusi, yaitu konflik Rusia-Ukraina dan kebuntuan nuklir AS-Iran, pasar minyak global berada dalam posisi siaga tinggi.

Jika eskalasi terus terjadi, harga bisa menembus batas psikologis $80 – $90 per barel. Namun, jika ada kemajuan dalam diplomasi, tekanan terhadap harga bisa mereda. Dalam jangka panjang, stabilitas pasar energi akan sangat ditentukan oleh bagaimana dunia menangani krisis geopolitik dan transisi menuju energi baru terbarukan.

Investor, analis, dan pembuat kebijakan perlu terus memantau dinamika geopolitik untuk mengambil langkah yang tepat dalam merespons fluktuasi pasar minyak yang tidak menentu ini.

Disclaimer: Artikel ini disusun semata-mata untuk tujuan informasi. Isi artikel bukan merupakan saran investasi, perdagangan, atau keuangan. Keputusan apapun yang diambil pembaca menjadi tanggung jawab masing-masing. Selalu lakukan riset pribadi atau konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional

Update harga minyak terkini atau tips trading? Ikuti akun kami di X atau kunjungi PTNTC.COM atau Akademi Trading Oil untuk informasi terbaru!

Bagikan artikel ini:

Komentar:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *