Ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas pada tahun 2025. Presiden Donald Trump, dalam masa jabatan keduanya, meluncurkan gelombang tarif baru hingga 145% terhadap impor dari Tiongkok. Langkah ini memicu respons keras dari Beijing, yang membalas dengan tarif hingga 125% pada produk AS dan memperketat kontrol ekspor terhadap perusahaan-perusahaan Amerika.
Dampak Langsung: Krisis di Kedua Negara
Di Tiongkok, kebijakan tarif Trump menyebabkan penutupan pabrik, pemutusan hubungan kerja, dan protes massal dari pekerja yang menuntut upah yang belum dibayar. Radio Free Asia melaporkan bahwa ketegangan meningkat di berbagai wilayah, termasuk insiden di mana pekerja konstruksi mengancam akan melakukan tindakan ekstrem karena keterlambatan pembayaran. New York Post
Sementara itu, di Amerika Serikat, sektor logistik dan pergudangan mengalami penurunan signifikan. The Guardian mencatat penurunan 45% dalam pemesanan kontainer dari Tiongkok ke pelabuhan AS, yang mengakibatkan hilangnya ribuan pekerjaan dan kontraksi PDB untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.
Strategi Tiongkok: Fokus pada Pertumbuhan Domestik dan Teknologi
Meskipun menghadapi tekanan eksternal, Tiongkok menetapkan target pertumbuhan ekonomi sekitar 5% untuk tahun 2025. Pemerintah meningkatkan defisit anggaran menjadi 4% dari PDB dan mengalokasikan dana sebesar 398 miliar yuan untuk pengembangan teknologi seperti AI, 6G, dan komputasi kuantum. Langkah ini menunjukkan tekad Beijing untuk memperkuat ekonomi domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor.
Retorika Politik: Ketegangan yang Semakin Meningkat
Retorika antara kedua negara semakin tajam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menyatakan bahwa Tiongkok siap “berjuang sampai akhir” dalam menghadapi perang tarif atau bentuk konflik lainnya. Pernyataan ini mencerminkan sikap tegas Beijing terhadap tekanan dari Washington.
Dampak Global: Ketidakpastian Ekonomi dan Investasi
Konflik dagang ini menimbulkan ketidakpastian di pasar global. Investor mengamati dengan cermat perkembangan situasi, sementara perusahaan-perusahaan multinasional mempertimbangkan kembali rantai pasok mereka. Beberapa saham perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS, seperti BYD dan Xiaomi, menunjukkan ketahanan dan mendekati titik beli, mencerminkan optimisme investor terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang.
Kesimpulan: Masa Depan yang Tidak Pasti
Perang dagang antara AS dan Tiongkok pada tahun 2025 menciptakan ketidakpastian yang signifikan di panggung ekonomi global. Kedua negara menunjukkan sikap tegas dan belum ada tanda-tanda kompromi. Dampak dari konflik ini dirasakan tidak hanya oleh kedua negara, tetapi juga oleh ekonomi global secara keseluruhan. Pemantauan terus-menerus terhadap perkembangan situasi ini sangat penting bagi para pelaku ekonomi dan pengambil kebijakan di seluruh dunia.
Disclaimer : Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga Mei 2025 dari berbagai sumber kredibel. Isi artikel bertujuan untuk memberikan pemahaman umum dan bukan merupakan saran finansial, hukum, atau politik.
Daftar Membership di : Akademi Trading Oil
Follow Tiktok ATO : akademitraderoil