Hari ini media sosial kembali ramai.
Namun kali ini, perhatian publik tidak tertuju pada selebritas atau politisi.
Sebaliknya, sorotan justru mengarah kepada seorang bapak tua penjual es gabus.
Selama puluhan tahun, ia menjajakan es kue sederhana di kawasan Kemayoran untuk menghidupi keluarganya.
Masalah bermula ketika aparat menuding es yang ia jual berbahan spons.
Tudingan itu langsung memicu kekhawatiran publik karena dianggap membahayakan anak-anak.
Dalam situasi tersebut, aparat mengintimidasi dirinya.
Mereka menahan sang bapak.
Bahkan, kekerasan fisik sempat terjadi.
Semua peristiwa itu menimpa seseorang yang hidupnya selama lebih dari 30 tahun hanya berputar pada satu hal:
berjualan es demi menyambung hidup keluarga.
Dari luar, banyak orang dengan mudah menyimpulkan,
“Ini jelas ketidakadilan.”
Namun, jika kita menempatkan diri pada posisinya, situasinya terasa jauh lebih berat.
Setelah bertahun-tahun menjalani hidup sederhana, ia tiba-tiba harus berhadapan dengan aparat negara.
Ia mengalami pemukulan.
Ia dipermalukan di depan umum.
Namanya pun tersebar luas di media sosial.
Pada hari itu, besar kemungkinan ia merasa hidupnya runtuh.
Bahkan, ia mungkin bertanya dalam hati,
“Apa sebenarnya kesalahan saya?”
Meski begitu, hidup sering kali tidak berhenti pada satu peristiwa saja.
Ketika Hari Terburuk Berubah Menjadi Jalan Pengangkatan
Setelah proses pemeriksaan selesai, fakta berkata lain.
Aparat tidak menemukan bukti atas tuduhan tersebut.
Es yang ia jual berasal dari pabrik.
Produk itu tidak berbahaya.
Selain itu, ia juga tidak melanggar hukum.
Akhirnya, aparat yang terlibat menyampaikan permintaan maaf.
Sementara itu, karena peristiwa ini terlanjur viral, simpati publik pun mengalir deras.
Masyarakat menunjukkan empati yang luar biasa.
Negara mulai memberikan perhatian.
Bahkan, Gibran Rakabuming Raka turut menyampaikan kepedulian.
Tak lama kemudian, Dedi Mulyadi melakukan hal serupa.
Berbagai bentuk bantuan datang tanpa ia minta.
Masyarakat bergerak karena melihat ketulusan serta ketidakadilan yang menimpanya.
Ironisnya, hari yang ia anggap sebagai hari terburuk dalam hidupnya justru membuka jalan bagi pengangkatan derajat.
Pada titik inilah, kita perlu berhenti sejenak dan merenung.
Tuhan Tidak Pernah Menciptakan Peristiwa Tanpa Tujuan
Sering kali manusia menilai hidup dengan sudut pandang yang sangat sempit.
Ketika hari terasa buruk, hidup dianggap kejam.
Saat keadaan jatuh, Tuhan pun dipertanyakan.
Padahal, apa yang kita sebut musibah sering kali hanyalah jembatan.
Bukan akhir dari segalanya, melainkan pengantar menuju bab berikutnya.
Tuhan tidak pernah menciptakan peristiwa untuk menghancurkan manusia tanpa makna.
Sebaliknya, Ia menyusun proses yang baru kita pahami setelah kita melewatinya.
Di titik inilah, kisah penjual es gabus tersebut bertemu dengan realitas kehidupan seorang trader.
Trader, Kerugian, dan Kesalahan dalam Memaknai Loss
Dalam keseharian, saya sering bertemu trader yang terluka.
Bukan hanya secara finansial, tetapi juga mental, hubungan keluarga, reputasi, bahkan harga diri.
Sebagian kehilangan tabungan.
Sebagian lainnya jatuh ke titik depresi.
Tak sedikit pula yang mulai menganggap dirinya bodoh dan gagal.
Namun, akar masalahnya jarang terletak pada kerugian itu sendiri.
Masalah sesungguhnya muncul dari cara memaknai loss.
Banyak trader menganggap kerugian sebagai hukuman.
Mereka melihatnya sebagai tanda bahwa hidup tidak berpihak.
Sebagian bahkan percaya bahwa mereka memang tidak ditakdirkan untuk sukses.
Padahal, loss sering kali berfungsi sebagai peringatan.
Ia bukan penghancur, melainkan koreksi arah.
Sama seperti kisah penjual es gabus tadi.
Jika ceritanya berhenti di hari pemukulan, kisah itu menjadi tragedi.
Namun hidup terus berjalan, dan maknanya pun berubah.
Ketika Tuhan Ingin Menolong, Jalannya Tidak Rumit
Banyak orang mengira kesuksesan selalu rumit dan penuh rintangan.
Padahal, ketika Tuhan ingin menolong, caranya sering kali sederhana.
Ia bisa mempertemukan kita dengan orang yang tepat.
Ia dapat membuka pemahaman yang sebelumnya gelap.
Bahkan, solusi sering datang dari arah yang tidak kita duga.
Saat ini, teknologi pun bisa menjadi perantara.
Meski begitu, banyak trader merasa tertinggal karena tidak bisa coding, tidak memahami sistem, atau tidak mengerti robot trading.
Padahal, jarak antara ide dan eksekusi kini semakin dekat.
Karena itu, faktor penentunya bukan teknologi semata.
Yang paling menentukan justru kesadaran untuk belajar, berbenah, dan menerima proses.
Recovery Itu Nyata dan Tidak Serumit yang Dibayangkan
Bangkit tidak selalu terjadi secara dramatis.
Sering kali, perubahan dimulai dari satu pemahaman baru.
Kemudian, sudut pandang pun bergeser.
Akhirnya, seseorang berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Dalam trading, recovery bukan tentang balas dendam kepada market.
Bukan pula soal mengejar balik modal secepat mungkin.
Sebaliknya, recovery berarti berdamai dengan proses
dan menata kembali langkah dengan kepala dingin.
Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk mengangkat manusia.
Namun, manusia sering kekurangan keyakinan bahwa
pada akhirnya, semuanya akan baik-baik saja.
Penutup
Penjual es gabus itu tidak pernah menyangka bahwa hari pemukulan
menjadi awal dari pengangkatan derajatnya.
Begitu pula trader.
Sering kali, hari penuh kerugian justru menjadi titik balik menuju kedewasaan dan kesuksesan.
Karena itu, tugas manusia bukan menebak rencana Tuhan.
Tugas kita hanyalah berusaha, menerima, dan tetap berpikir baik.
Tidak ada satu pun peristiwa yang Tuhan ciptakan tanpa tujuan.
Yang ada hanyalah manusia
yang belum sampai pada akhir ceritanya.
Jika hari ini terasa berat, jangan buru-buru menarik kesimpulan.
Bisa jadi, ini bukan kehancuran.
Melainkan jembatan.