Trump Percepat Ultimatum Tarif ke Rusia: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Daftar isi Artikel

Pertama, pada 14 Juli 2025, Trump mengumumkan ultimatum 50 hari kepada Putin untuk menyetujui gencatan senjata dengan Ukraina. Jika gagal, ia akan memberlakukan tarif “sekunder” 100 %, termasuk terhadap negara-negara yang membeli minyak Rusia . Trump menyertai ancaman ini dengan pengiriman sistem pertahanan Patriot kepada Ukraina .

1. Frustrasi terhadap Putin Mendorong Percepatan Tenggat

Kemudian, dalam konferensi pers bersama PM Inggris Keir Starmer di Skotlandia pada 28 Juli, Trump menyatakan kekecewaannya:

“Kami pikir telah menyelesaikannya berkali-kali… lalu Putin meluncurkan roket ke Kyiv… itu bukan cara yang benar.”
Dengan demikian, ia memperpendek tenggat menjadi 10–12 hari, menargetkan tenggat baru sekitar 5–7 Agustus 2025.

2. Reaksi dan Respons terhadap Pemangkasan Tenggat

Sejumlah pihak internasional merespons. Ukraina menyambut positif: Presiden Zelenskyy memuji tindakan Trump sebagai kekuatan yang tepat dan tegas. Sebaliknya, Kremlin tetap bersikap defensif: Dmitry Medvedev memperingatkan ultimatum bisa memicu konflik lebih besar, menyebutnya teatrikal dan tidak berdampak nyata aljazeera.comReuters. Secara paralel, pasar minyak global mencatat lonjakan harga hingga nyaris 3 %, mencerminkan ketidakpastian terhadap dampak kebijakan tersebut.

3. Alasan Aktif di Balik Kebijakan

Trump menggantikan retorika diplomatik dengan tekanan ekonomi ketika gencatan senjata tidak juga terwujud. Ia menegaskan bahwa tarif adalah alat untuk menyudahi perang, dan bukan ingin mencelakai warga Rusia yang ia klaim cintai. Lebih lanjut, ia menyatakan disappointed terhadap Putin karena janji dialog yang kemudian disusul serangan udara ke warga sipil

4. Potensi Dampak Ekonomi dan Politik

Lebih jauh, sanksi semacam itu bisa mengisolasi ekonomi Rusia, terutama karena pendapatan ekspor minyak dan gas menyumbang substansial pada anggaran Kremlin. Namun, langkah ini juga bisa mendorong volatilitas harga energi global, menekan konsumen, dan memperumit hubungan AS dengan pembeli utama seperti China dan India

5. Kesimpulan: Strategi Tegas atau Retorika Kosong?

Secara keseluruhan, Trump telah menggeser pendekatannya dari ancaman 50 hari menjadi ultimatum 10–12 hari agar lebih tegas terhadap Putin—transisi yang mencerminkan frustrasi dan strategi tekanan maksimum. Namun, efektivitasnya masih tergantung pada apakah ancaman itu benar-benar direalisasikan atau tetap jadi retorika politik.

Disclaimer : Informasi dalam artikel ini bersifat berdasarkan laporan media terpercaya per 29–30 Juli 2025. Setiap kebijakan dan janji bisa berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan politik dan keputusan resmi pemerintah AS. Artikel ini tidak menjamin hasil spesifik dari tindakan yang disebutkan dan bukan merupakan nasihat hukum atau kebijakan.

Bagikan artikel ini:

Komentar:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *